Minggu, 12 Januari 2020

DILEMA KEHIDUPAN ANAK PERANTAUAN DAN KAMPUNG HALAMANNYA


      Pagi ini aku baru saja bangun dari nyenyaknya tidur semalam. udara segar dan ditemani lantunan lagu-lagu kesayangan memulai pagi. sebenarnya pagi ini sangat tenang untuk melakukan perenungan dan aku memang sedang  melakukannya.

      Ini adalah kampung halaman yang dipenuhi orang-orang tersayang dan kenangan proses hidup yang membentuk ku. Namun, kali ini ada yang berbeda. kehidupan selama 10 tahun merantau kini membuatku merasa sebagai orang asing di kampung halaman ku sendiri.

    Segala sesuatu terlihat seperti sudah jau berubah. aku yang terbiasa mengatur diri sendiri harus kembali ke keluarga yang memiliki aturan-aturannya lagi aku yang terbiasa sendiri, kini  mulai tak bisa menikmati saat kumpul-kumpul bersama orang banyak. terlebih lagi, setelah sebulan disini, aku mulai sadar bahwa aku kehilangan jiwa pejuang ku. aku yang memiliki jiwa ambisi untuk menghasilkan karya, aku yang "haus" akan pencapaian, aku yang bisa merasakan Tuhan lebih dalam kini berubah menjadi biasa saja. Ambisi yang perlahan menghilang, haus yang tak pernah terpuaskan hingga jadi terbiasa, hadirat yang terlihat bayang-bayang karena tertutup kenyamanan semua ini perlahan membuatku sesak dan aku merasa akan segera berada pada sebuah "kematian". sebenarnya sebelum kembali ke kota kecil ini, aku sudah menuliskan sebuah daftar yang berisikan tentang alasan-alasan kenapa aku harus pulang. aku sengaja menuliskannya karena aku sadar bahwa aku akan  sampai juga pada titik ini, titik dimana aku merasa sangat bosan berada pada kehidupan yang nyaman-nyaman saja seperti ini.

     Salah satu alasannya adalah karena ketakutan ku kehilangan kesempatan melayani kedua orang tua yang berujung penyesalan jika mereka dipanggil Tuhan ketika aku masih ada dalam visi pencapaian mimpi-mimpi ku yang penuh ambisi di tanah rantau. krtika memutuskan pulang, tekad ini membula,. akan tetapi, keadaan ini pun membunuh ku. aku pulang dan aku juga hampir terbunuh karena mimpi-mimpi ku yang seolah menjauh karena di kota ini dengan kenyamanannya kini membuat ku kehilangan gairah untuk mewujudkannya.

     Pagi ini, kurenungkan tentang hidup adalah tentang pilihan. dilema ini membuat aku kembali harus melihat aku sebagai seorang pribadi. aku boleh memberikan hidup ku untuk kebahagiaan orang lain. tetapi, aku juga tidak boleh sampai menderita dengan mengorbakan apa yang menjadi impian-impian ku. lebih dari pada itu, hanya Tuhan yang benar-benar tahu tentang kehidpan dan umur seseorang. aku pasrah. aku tak bisa melakukan semuanya dan mengorbankan kehidupan ku ssendiri. dilema pagi ini akhirnya berujung pada keputusan ku untuk menemukan kembali hidup ku sendiri. membuat jalan yang aku percaya akan membahagiakan, aku yang harus bahagia, Tuhan pun tahu bahwa aku mencintai mereka.

       Aku mengakhiri dilema pagi ini dengan keputusan mantap bahwa aku akan tetap mencintai diriku dengan semua mimpi-mimpinya. aku akan tetap berjalan untuk hidup ku dan untuk bahagia ku, karena aku juga ingin membahagiakan mereka. aku sudah memutuskan jalan terbaik yang akan aku tempuh. aku siap memulai lagi langkah pertama yang kata orang berat itu, aku akan tetap melangkah sampai aku dapatkan semuanya  hingga memeluk mereka berasama mimpi-mimpi ku di akhir garis finish dan berhenti untuk kembali pulang dan hidup bersama mereka. aku sudah siap melangkah (lagi) sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar