Kamis, 30 Januari 2020

RINDU TANPA MAKNA

     Aku mulai bercerita tentang kisah-kisah lalu yang manis di masa remaja, namun sekarang semua hanyalah kenangan yang sudah tak mungkin diulang kembali. Ini tentang kata rindu yang sudah kehilangan maknanya.

     Aku meninggalkan kampung halaman dan menelusuri negeri orang untuk memastikan bahwa aku mampu berjalan jauh untuk melihat dunia yang lain tanpa melupakan dunia yang sudah membentuk ingatan masa-masa remaja ku. Ada banyak hal yang aku lihat di luar sana, menemukan orang-orang baru yang tak kalah hebat dengan mimpi yang mengantarkan mereka berjalan jauh.

     Di setiap langkah yang baru, aku menemukan banyak hal yang akhirnya benar-benar mengubah pemikiran ku. aku mulai merasa ada yang berbeda dari hasrat yang dulu aku pupuk sebelum meninggalkan kampung halaman ku. janji kepada keluarga, janji kepada sahabat dan janji kepada diri sendiri. semua hal berubah dengan berjalannya waktu, semua hal mulai berubah dengan pembaharuan pemikiran dari lingkungan yang baru dan ambisi yang membuatku tak benar-benar ingin kembali lagi.

     Saat waktu berjalan begitu cepat, tak sadar sudah satu dekade aku meninggalkan semua hal di amsa remaja ku. waktu yang terlampau lama membuat ratusan kata rindu membanjiri percakapan kami, memenuhi setiap komentar di sosial media dan isi obroalan.

"Rindu kamu, cepat pulang dan kita buat kenangan baru lagi" 

     Begitulah keindahan yang menawarkan dunia ku saat nanti aku kembali beradu dengan cerita-cerita masa remaja itu. kini waktu mengantar ku kembali pada dunia yang lama. tentu saja, aku datang dengan pemikiran yang baru berniat bersilahturami dengan dunia ku yang lama. semua kata rindu yang sudah tertampung  selama satu dekade itu membuatku sangat bersemangat membayarnya satu per satu dengan kenangan baru. Kenyataannya, Rindu memang hanya sejauh jarak. Aku kembali kepada setiap pemilik rindu itu,mereka yang berkata rindu, namun tak seorangpun yang benar-benar membuat ku mengerti bahwa rindu itu berarti.

     Tanpa sadar aku belajar bahwa rindu adalah sebuah kekuatan yang mengantarkan ku kembali, tetapi aku juga belajar bahwa rindu akan lumpuh saat jarak yang ditempuh sudah bersatu. semua pemilik rindu itu perlahan seperti orang-orang asing yang tak benar-benar ada.  Kini, saat aku kembali, aku hanya mendapati orang-orang yang mampu bertutur tentang rindu tanpa memahami makna dan kekuatan besar dibalik kata itu.

     Aku belajar lagi bahwa rindu yang tercipta benar-benar hanyalah sejauh jarak. kelak, aku yang  memang harus lebih bijak memilah mana yang benar-benar rindu dengan penuh makna. aku tak akan membayar harga pada pemilik rindu yang tak mengerti maknanya. kali ini, aku hanya akan kembali kepada makna rindu sesungguhnya. kepada mereka yang tahu bahwa ada harga yang akan aku bayar pada setiap kata rindu yang terucap dan mengerti makna kata indah ini. aku belajar lagi bahwa tidak semua mereka merindukanku. mereka hanya memaniskan isi obrolan kami agar tidak terlihat basi.

Rindu... kini aku sudah belajar lagi.
Rindu, aku menghargai maknamu.
Rindu, Aku merindu.

Senin, 13 Januari 2020

TUHAN MASIH BEKERJA ?

         Waktu yang terus berjalan dan tak pernah menyesal untuk sejenak berputar kembali membuat ku tersadar bahwa usia ini tak pernah tertahan menunggu sebuah kesiapan. aku yang dulu memimpikan hal-hal bahagia bagaikan cerita dongeng dan menjadi tokoh utama sebagai princess, kini mulai membuka mata dan menyadari bahwa hidup ini adalah realita dan bukan sebuah cerita dongeng masa kecil.

    Sebentar lagi aku memasuki usia dua puluh delapan tahun, aku yang masih menikmati kesendirian sesekali memikirkan tentang siapa yang benar-benar akan ada dalam akhir pencarian. Aku pernah memimpikan menikah di usia 23 tahun, tetapi sekali lagi aku bahkan masih melakukan banyak kesalahan di usia itu. Dua puluh delapan tahun yang sebentar lagi dirayakan membuatku ada dalam perenungan terdalam "Akankah hidup ini benar-benar menemukan teman perjalanannya?", "Kapan?", "Jika Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap anak-Nya, benarkah DIA sedang melihat kerinduan ku ini?","Masihkah Tuhan bekerja ?", atau "Apa aku dinilai kuat untuk menempuh perjalanan ini sendirian?".
    Banyaknya pertanyaan ini semakin membuat sesak bendungan hati yang tercipta dengan kelembutannya. pertanyaan-pertanyaan yang hampir menjebol pertahanan kekuatan hati dan membuat logika  mulai liar mencari cara menenangkan. 

      Hidup yang sudah berlalu dengan jutaan kebaikan yang sudah Tuhan berikan membuat aku bertumbuh menjadi Aku tak pernah ragu dengan waktu Tuhan, aku hanya manusia yang serba terbatas. termasuk batas untuk menenangkan diri sendiri, terbatas untuk sebuah penantian. Aku bahkan pernah ada di titik dimana merasa Tuhan mungkin tidak peduli dengan bagian hidup ku yang satu ini.  Dulu aku juga sempat berpikir sejahat Tuhan mungkin tidak "becus" dalam urusan hati. aku menggerutu kala itu, aku benar-benar lupa bahwa jika ada satu bagian dari diri kita yang ingin Tuhan minta adalah Hati. DIA benar-benar peduli dengan semua yang ada dihati kita.


       Aku malu dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu. bahkan setiap tahunnya dalam perjalanaan 23 tahun menuju 28 tahun ini, aku malah dibuat belajar banyak hal. aku melihat aku yang sebentar lagi 28 tahun dan aku yang dulu 23 tahun adalah proses perjalanan yang luar biasa sarat dengan pembentukan karakter. aku bahkan melihat aku yang di usia 23 tahun itu masih terlalu kekanak-kanakan untuk menjaga sebuah hati yang Tuhan percayakan untuk ku jaga selamanya.

        Dua puluh delapan tahun (2020) tak akan membuat aku berhenti percaya. pertanyaan-pertanyaan itu mendapat sebuah jawaban yang menenangkan bahwa Tuhan masih bekerja, bukan untuk orang lain, bukan saja mempersiapkan semua faktor diluar, DIA bahkan sedang benar-benar fokus membentuk ku. Aku hanya sedang dipersiapkan menjadi wanita yang siap untuk dipercayakan menjaga sebuah hati anak laki-laki kesayangan-Nya untuk kelak dapat aku pertanggujawabkan dihadapan-Nya disurga. aku belajar mengerti bahwa waktu Tuhan adalah yang terbaik dan Tuhan masih bekerja dengan lebih fokus untuk ku. ya... DIA tahu peta hidup ku dari awal hingga akhir perjalanannya, aku semakin percaya bahwa TUHAN MASIH BEKERJA. :)

Minggu, 12 Januari 2020

DILEMA KEHIDUPAN ANAK PERANTAUAN DAN KAMPUNG HALAMANNYA


      Pagi ini aku baru saja bangun dari nyenyaknya tidur semalam. udara segar dan ditemani lantunan lagu-lagu kesayangan memulai pagi. sebenarnya pagi ini sangat tenang untuk melakukan perenungan dan aku memang sedang  melakukannya.

      Ini adalah kampung halaman yang dipenuhi orang-orang tersayang dan kenangan proses hidup yang membentuk ku. Namun, kali ini ada yang berbeda. kehidupan selama 10 tahun merantau kini membuatku merasa sebagai orang asing di kampung halaman ku sendiri.

    Segala sesuatu terlihat seperti sudah jau berubah. aku yang terbiasa mengatur diri sendiri harus kembali ke keluarga yang memiliki aturan-aturannya lagi aku yang terbiasa sendiri, kini  mulai tak bisa menikmati saat kumpul-kumpul bersama orang banyak. terlebih lagi, setelah sebulan disini, aku mulai sadar bahwa aku kehilangan jiwa pejuang ku. aku yang memiliki jiwa ambisi untuk menghasilkan karya, aku yang "haus" akan pencapaian, aku yang bisa merasakan Tuhan lebih dalam kini berubah menjadi biasa saja. Ambisi yang perlahan menghilang, haus yang tak pernah terpuaskan hingga jadi terbiasa, hadirat yang terlihat bayang-bayang karena tertutup kenyamanan semua ini perlahan membuatku sesak dan aku merasa akan segera berada pada sebuah "kematian". sebenarnya sebelum kembali ke kota kecil ini, aku sudah menuliskan sebuah daftar yang berisikan tentang alasan-alasan kenapa aku harus pulang. aku sengaja menuliskannya karena aku sadar bahwa aku akan  sampai juga pada titik ini, titik dimana aku merasa sangat bosan berada pada kehidupan yang nyaman-nyaman saja seperti ini.

     Salah satu alasannya adalah karena ketakutan ku kehilangan kesempatan melayani kedua orang tua yang berujung penyesalan jika mereka dipanggil Tuhan ketika aku masih ada dalam visi pencapaian mimpi-mimpi ku yang penuh ambisi di tanah rantau. krtika memutuskan pulang, tekad ini membula,. akan tetapi, keadaan ini pun membunuh ku. aku pulang dan aku juga hampir terbunuh karena mimpi-mimpi ku yang seolah menjauh karena di kota ini dengan kenyamanannya kini membuat ku kehilangan gairah untuk mewujudkannya.

     Pagi ini, kurenungkan tentang hidup adalah tentang pilihan. dilema ini membuat aku kembali harus melihat aku sebagai seorang pribadi. aku boleh memberikan hidup ku untuk kebahagiaan orang lain. tetapi, aku juga tidak boleh sampai menderita dengan mengorbakan apa yang menjadi impian-impian ku. lebih dari pada itu, hanya Tuhan yang benar-benar tahu tentang kehidpan dan umur seseorang. aku pasrah. aku tak bisa melakukan semuanya dan mengorbankan kehidupan ku ssendiri. dilema pagi ini akhirnya berujung pada keputusan ku untuk menemukan kembali hidup ku sendiri. membuat jalan yang aku percaya akan membahagiakan, aku yang harus bahagia, Tuhan pun tahu bahwa aku mencintai mereka.

       Aku mengakhiri dilema pagi ini dengan keputusan mantap bahwa aku akan tetap mencintai diriku dengan semua mimpi-mimpinya. aku akan tetap berjalan untuk hidup ku dan untuk bahagia ku, karena aku juga ingin membahagiakan mereka. aku sudah memutuskan jalan terbaik yang akan aku tempuh. aku siap memulai lagi langkah pertama yang kata orang berat itu, aku akan tetap melangkah sampai aku dapatkan semuanya  hingga memeluk mereka berasama mimpi-mimpi ku di akhir garis finish dan berhenti untuk kembali pulang dan hidup bersama mereka. aku sudah siap melangkah (lagi) sekarang.

Sabtu, 04 Januari 2020

BAGAIMANA JIKA HARUS MELAJANG ?

      Sebuah pertanyaan pagi itu datang ketika sebuah buku berjudul "Wonderful Single Life" oleh Vonny Thay memasuki halaman 154. 





      Ditemani derasan hujan yang tak kunjung redah sedari pagi, bermacam-macam pertanyaan muncul bagaikan tetesan-tetesannya. aku tertumpu pada sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul. "Bagaimana Jika harus hidup melajang ?".  Jantungku berdetak lebih cepat, seolah mengejutkan dan membuat suasana menjadi tak santai. aku mungkin belum benar-benar siap dengan pertanyaan semacam itu, bahkan mungkin kenyataan seperti itu. impian ku setiap malam yang tergambar bersama keluarga kecil masa depan perlahan membias. Ternyata aku sendiri memang merespon dengan terkejut karena memang tak pernah siap. aku tak pernah menanyakan bahkan membayangkan kehidupan tua yang melajang. meski begitu, itu tak pernah benar-benar membunuh impian ku yang sudah terpupuk bertahun tahun.

      Ku hentikan semuanya dan merenung lebih jauh lagi, "Bagaimana jika Tuhan memberi jalan hidup yang seperti ini dalam rancangan-Nya untuk hidupku ?  siapkah aku ?". aku bertanya kembali "Apa mungkin ?". semua pertanyaan membuatku semakin menciut memandang mimpi indah sebelumnya. ada sedikit pemberontakan dan penolakan akan keadaan seperti itu. lalu, pertanyaan lain menyusul "Bukankah harus taat jika ini memang benar rancangan Tuhan ?". aku benar-benar semakin dibuat menyelami pertanyaan-pertanyaan yang satu per satu menyerang bertubi-tubi.

      Aku memang tak pernah tahu seperti apa masa depan ku, aku hanya sudah mantap  berkomitmen menyerahkan kehidupan ku dalam tangan dan kehendak Tuhan. memyerahkan sukacita ku dalam rancangan-Nya. ini adalah keputusan yang tak akan pernah aku sesali. aku percaya Tuhan sudah melihat setiap jalur hidup ku dalam peta rancangan-Nya. ini yang terbaik jika memang adalah kehendak Tuhan sendiri. Aku mantapkan hatiku dan membuat komitmen yang lebih lagi:

"Tuhan, menikah atau tidak, kaya atau miskin, sehat atau sakit, sesuai harapan atau tidak, aku akan tetap mencintai-Mu"!! Jadi, bagaimana jika nanti aku harus tetap hidup melajang ?
Aku akan tetap percaya bahwa inilah yang terbaik dan indah untuk hidup ku. ini tak akan mengurangi apapun dalam hidup ku, ini tak akan membuatku menjadi berbalik dan ragu.
Bagiku,  cinta-Mu lebih dari cukup untuk ku. 
😍😊😇