Minggu, 29 Desember 2019

MENJADI DEWASA DAN PAKET HIDUPNYA

                    Aku baru saja kembali ke surga yang lama aku impikan, dimana dalam benak ku sudah terbayang wajah-wajah malaikat yang sudah Tuhan kirimkan sebagai keluarga semasa aku masih dalam rancangan-Nya. Dunia mimpi yang membawa ku berkelana jauh kini menemukan titik lelah untuk kembali.

               Sekedar untuk bertegur sapah dan mengisi kembali cinta yang habis dimakan masa penjajahan rantauan. aku bermimpi kembali memeluk dan melihat senyuman mereka. waktu itu tiba dan kini  raut wajah muda itu sudah berubah terhias uban dikepala. pelukannya masih saja hangat dan cintanya masih berasa. aku menikmati hari-hari yang sudah terlewatkan dan kini kembali berharap membayar semuanya dengan makna yang tak tergambarkan. aku tahu sedari awal bahwa keluarga adalah surga meski tak tahu bagaimana aku sendiri dapat mendefenisikannya.

            Masa-masa surga itu kini telah bergeser makna, semakin dewasa aku tahu bahwa aku bertumbuh dan mereka juga. orang tua, saudara dan lingkungan. rumah yang hangat dengan pelukan mulai menunjukan sisi lainnya. rumah yang harusnya menjadi sarang jawaban berubah menjadi kandang konflik.

              Aku tahu bahwa keluarga adalah tempat kita belajar memahami. tetapi bagaimana jika semua kebenaran harus kembali pada standar masing-masing orang ?
kali ini aku mengalah pada gambaran indah kedewasaan dan juga rumah. aku yang berupaya membahagiakan mulai mencari kebahagiaanku sendiri.

           Tak ada amarah, yang ada hanya pengertian yang semakin dalam yang tumbuh bersama kedewasaan. surga kini telah berubah. surga bukan lagi tentang rumah atau keluarga. surga adalah tentang ketenangan diri sendiri. surga adalah tempat dimana kamu tahu bahwa kamu ingin hidup disana lebih lama. aku paham bahwa setelah kembali ke rumah, aku masih harus berjalan lagi lebih jauh untuk menemukan surga ku sendiri. surga yang ingin aku ciptakan dari kedewasaan yang sudah hidup ajarkan.

MIMPI

          Aku baru saja memeriksa daftar resolusi 2019 ku yang telah tercentang 8 dari 10 daftar yang terbuat. lalu ku balikan lembaran berikutnya untuk menuliskan resolusi 2020 yang sebentar lagi menyambut. ada kecambuk dalam batin tentang mimpi yang besar dengan serpihan semangat yang patah kala kemarin.

          Aku termenung dan bertanya pada diriku sendiri. Jika bukan mimpi yang sedang ingin aku wujudkan, ambisi apa yang sedang aku kejar?. Semangat kini sudah terkikis habis oleh zona nyaman yang tiba-tiba saja datang dalam sekejap saat aku baru saja membulatkan tekad untuk berlari lagi. kehidupan 5 atau 10 tahun seperti apa yang sedang aku bayangkan?. Ingatan dulu yang jelas mulai samar-samar terlihat. sepertinya jiwa letihku membuat penerawanganku menjadi bias.
haruskah aku berhenti? tanya ku lagi... Namun, tetap saja jiwa terus mengatakan: sebaiknya beristirahat saja.



         Aku sedikit takut mengambil waktu istirahat ini. bukan karena aku tak bisa memulai kembali, aku hanya sering tak sadar bahwa aku sudah terlalu lama beristirahat.
Malam itu, dalam kamar yang sengaja ku padamkan lampunya, alunan musik lembut mengalun dengan kata-kata pengantar mulai menyadarkan ku untuk kembali bangkit. meski dengan keadaan sekarat harus menuliskan ini, aku tahu langkah awal baru saja dimulai kembali.

         Selamat inggal peristirahatan. kita jumpa lagi nanti tapi tidak sekarang. Izinkan aku berdiri lebih tegak dari sebelumnya untuk menghadapi zona nyaman yang membunuh perlahan tiap pertumbuhan ini, izinkan aku berlari mengejar apa yang seharusnya aku genggam.
    
      Kali ini, lebih bersungguh-sungguh lagi. aku hanya butuh membaca kembali tulisan ini untuk sesekali menamparku menyadarkan bahwa ada mimpi yang sedang menunggu untuk segera aku wujudkan. Bersemangatlah jiwaku. kita mulai semuanya. 2020 dengan segala pencapaiannya.