Hari ini baru saja aku menjalani separuh hari ku. segala sesuatu berjalan baik sejauh ini di hari ini. hal ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. suasana rumah tak seramah biasanya. gesesakan-gesekan kecil memercikan api yang membuat ruang kamar menjadi ruangan terbaik untuk menghabiskan waktu dibandingkan ruang keluarga. Siang itu aku mendapat telepon dari Mama yang menceritakan bagaimana Papa menjelaskan keadaan rumah yang sedang tidak menyenangkan. ternayata, Papa sedang tidak berpikir searah dengan apa yang kami harapkan. Papa sedikit salah paham tergambar dari penjelasannya pada Mama.
Baiklah, kali ini aku ingin membicarakan tentang Papa. beliau berubah beberapa tahun belakangan ini. Aku yang belum menikah tentu saja sangat menaruh rasa aman dan nyaman kepada sosok lelaki ini. Papa di zaman aku SMA menjadi sangat berbeda dengan Papa yang sekarang aku temui setelah 11 tahun merantau dan kembali ke rumah.
Papa yang dulu seiring bisa diandalkan menjadi orang yang mengecewakan setiap kali aku menaruh harap. aku tidak benar-benar kecewa memang, tetapi aku bertanya-tanya tentang ini. ada hal lain yang aku temukan dari sikap Papa sekarang. Sikap yang masih saja tertutup dan sangat "pelit" jika diminta mengajari sesuatu. Aku adalah orang yang sangat hobi belajar, aku berharap keahlian Papa menurun pada ku dengan cara tergampang adalah memintanya mengajariku. Sedangkan, kenyataannya sikap Papa yang 'pelit' ini tidak pernah berubah. Beliau masih saja menjadi orang yang 'pelit' untuk berbagi pelajaran-pelajaran penting untuk bekal kami, anak-anaknya.
Siang ini, aku merenung dan menerka-nerka apa alasannya ?. Aku mendapatkan kesimpulan ku snediri bahwa Papa mungkin ingin bisa melakukan banyak hal untuk kami. Beliau ingin untuk kami bisa mencari dan mengandalkan Beliau. pemikirannya mungkin jika kami nanti kami semua bisa dan mandiri, mungkin peran beliau akan menjadi sangat kecil. Oke.. kesimpulannya adalah beliau mau untuk terus diandalkan.
Aku merenung pada kebaikan Tuhan dan perbuatan tangan-Nya dalam hidup ku. Tuhan membawa ku mengalami proses-proses yang akhirnya membentuk ku menjadi orang yang kuat, orang yang bukan saja menang, tetapi juga jatuh cinta dengan perbuatan-Nya. Aku berada pada titik mencintai Tuhan ku dan sekaligus terisi penuh oleh kemampuan-kemampuan diri yang siap menghadapi dunia. Perenungan ini akhirnya membuatku mengerti bahwa ada dua hal berbeda saat seseorang ingin terus medapat tempat di kehidupan orang lain, mendapat peran dan pada akhirnya ia mau di andalkan oleh orang lain.
Cara yang diterapkan oleh Papa akan membuat aku untuk bisa mengandalkannya, tetapi aku selamanya hanya akan menjadi pribadi yang lemah. ini merupakan hal membahayakan jika suatu saat nanti aku harus terpisah jauh dari Papa atau Papa benar-benar kembali ke surga. sedangkan, cara Tuhan adalah membuat ku tetap mengandalkan-Nya dan aku sendiri telah terbentuk kuat untuk siap mengahdapi dunia.
Aku semakin jatuh cinta dengan caranya Tuhan ku... DIA membuatku menjadi pribadi yang luar biasa dan mandiri, tetapi.. meski begitu aku tak pernah lupa bahwa DIA pun akan tetapi selalu mau aku mengandalkan-Nya. Jadi, yang terjadi sebenarnya adalah semandiri apapun kita, sekuat apapun kita dibentuk, Tuhan tetap ingin kita mengandalkan-Nya. Selamanya !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar